Jujur, musikalitas saya sangat rendah. Ga pernah hapal chord-chord music lagu secara lengkap, ga pernah juga hapal liriknya. Memang sih dulu saya suka nge-band dan jadi basist alias pemain bas medioker di banyak band kelas pelajar n mahasiswa, tapi tetep aja ga pernah fasih memainkan menyanyikan n mengingat lagu. Brangkali itu juga alasan saya tidak memilih jalur musik sebagai pilihan karir.
Kembali ke musik tadi, karena tidak banyak tau lagu-lagu yang beredar dari kuping ke kuping, maka dari sekian banyak lagu (entah kenapa) yang saya bisa ingat dengan mudah adalah lagunya Vetty Vera, penyanyi dangdut, yang judulnya “sedang-sedang saja”.
Lha kok dangdut? Vetty vera pulak. Yaa, ini bukan karena semata-mata dia adalah kakaknya Alam, si mbah dukun. Tapi karena lirik lagu “sedang-sedang saja” nya itu ternyata sangat aplikatif dan riil untuk diterapkan di keseharian kita.
Simpel aja, coba anda makan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit. Belajar terlalu banyak atau terlalu sedikit. Main terlalu banyak atau terlalu sedikit. Hasilnya pasti ekstrim dan cenderung berdampak negatif. Kebanyakan makan? Pastilah anda gendut kalau tidak dengan embel-embel kolesterol tinggi, diabetes, dll. Apalagi kebanyakan makan nasi aking, alahmak pasti busung lapar ente. Lalu kurang makan? Ih anda pasti ceking, kalau bagi pria ga gagah (makanya ada weight gain), kalau perempuan pasti ga montok, ga bahenol. Belajar terlalu banyak? Kuper laah. Main terlalu banyak? Pasti gago alias gaul tapi bego
Makanya mbak vetty akhirnya dalam lagunya bilang “kalau aku jadi kamuu, yang sedang-sedang sajaa, ouoooo”
Nah ternyata, ini juga berlaku untuk ekonomi. Well, sebagai seorang analis ekonomi yang masih baru di dunia “persilatan” ini, saya tanggap betul apa pentingnya “Sedang-sedang saja” di ekonomi. Lha kok bisa? Maap2 bukannya mau ngajak mikir berat, tapi ga ada salahnya anda singsingkan lengan baju, kerutkan dahi, dan mikir sejenak.
Ga berat kok, “sedang-sedang” sajalah.
Begini, kita ambil contoh simple, kalo kurs rupiah kita terhadap dollar tiba-tiba hari ini berubah jadi 3 rebu perak (sekarang saat tulisan ini ane buat, Rp/US$ 9,400 bok!), PASTI anda bakal ngebut ke toko elektronik beli entah blekberi, leptop, tipi atau apapun. Lha bagaimana tidak? Blekberi bold yg sekarang 5 jutaan, dengan kurs yang merosot ke 3 rebu, akan berbanderol dibawah 2 juta. Leptop? Yang tadinya 10 juta bakal jadi 3 juta. Mobil?? Yang tadinya 300 jutaan sangat mungkin balik ke bawah 200 juta perak.
Dengan situasi itu, anda senang? Iyalah, dapet barang murah kok enggak senang. Tapi ada yang dirugikan ga? Jelas si kokoh-kokoh yang barangnya anda beli itu pasti mumet kepepet babi ngepet. Gimana engga, dia beli (ngimpor) barang dengan kurs 9,400 dan harus dijual ke kita-kita ini seharga kurs 3,000! Rugilah bos.
Kalau kita mau iseng-iseng mikir agak jauhan dikit (alias berpikir secara makro ^^V ), yakinlah bahwa derita kokoh-kokoh itu akan jadi derita kita juga.
Lagi-lagi ceritanya simple. Gini, bayangkan si kokoh tadi rugi. Nah, berarti pendapatannya turun dong. Kalau pendapatannya turun, belanjanya (entah makanan, minuman, baju, hiburan) turun, uang yang dia masukkan ke bank juga turun, dia pun ga akan minta kredit lagi ke bank, dan mungkin juga, dia jadi urung nguliahin anaknya. Nah, artinya para banker rugi (ga ada tabungan n ga ada kredit untuk disalurkan), para pekerja manufaktur juga rugi (produknya ga ada yang beli), pecun-pecun mangga besar juga rugi (lha kokoh pelanggannya tiba2 jadi alim kabeh), para pemilik swalayan juga rugi (lha pembelinya berkurang), para dosen pun rugi (mahasiswa berkurang), dll.
Singkat cerita, perubahan kurs yang cepat dan tiba-tiba itu, kalau mau kita lihat dari skala besar, maka dampaknya terhadap ekonomi bisa sangat heboh. Itu baru dampak dari kurs yang turun alias penguatan kurs lho. Kalau kursnya naik alias pelemahan kurs, dampaknya juga akan sama hebohnya.
Pengen tau ceritanya, ya udah deh singkat aja. Bayangkan kurs rupiah tiba-tiba jadi 15,000 (dari saat ini 9,400). Makanya logikanya kita balik: barang-barang yang tadinya bisa kita beli, sekarang pasti jadi tak terbeli. Kembali ke contoh elektronik tadi, kalau tadinya blekberi 5 juta, jadi 8 juta. Tipi tadinya 4 juta, jadi 7 juta. Mobil tadinya 300 juta, sekarang jadi 500 juta! Alahmak….. kalau begitu jadinya pasti TETUKO alias sing teko ra tuku sing tuku ra teko alias “yang datang ga beli, yang beli ga datang”.
Ada banyak contoh lain tentang gimana pentingnya “sedang-sedang saja” di ekonomi.
Tapi, well, saya ga tega sama anda yang dahinya sudah berkerut-kerut bagai jeruk purut hanya untuk baca 3 paragraf tentang kurs tadi. Lanjut kapan kapan aja deh. Lagian kebanyakan baca juga ga bagus kan.
Makanya, kalau kata mbak vetty vera, yang “sedang-sedang saja…ouoooo”